Senin, 25 Juli 2016

CERPEN 1 : SEMERBAK -69 DI UJUNG USIA SAUNG KUWUNG

Cerpen 1

SEMERBAK -69 DI UJUNG USIA SAUNG KUWUNG

            Populasi embun pagi serentak menyimbat peluh tubuh Alan hingga membeku.Bocah 15 tahun itu tiada hentinya mencak-mencak di hamparan makhluk hijau melambai.Tak lebih cepat dari kilatan listrik udara, sukmanya terlontar ke sebuah lamunan yang tak lelap dari keseduan.
            Sunyi sesaat tak menjadi peluang untuk bebas dari dunia yang suram.Ketika dalang berisak untuk wayang golek kakek Abdurrahim, kepalan tangan tegang mulai tergambar kuat melalui tangan wayang kakek Abdurrahim —terus-menerus di setiap celah sandiwara singkat dalam pewayangan.Dua mata wayang itu kian menatap tajam wayang bocah suci. Saat itu tak terlintas sedikit pun dalam benak Alan makna gerak demi gerak, kata demi kata, begitu pula pupuh demi pupuh yang dilakukan kang Risman dalam menjadi dalang sandiwara tiga wayang golek.
            Sayup-sayup bunyi getaran dawai kecapi selalu mengiringi dan menyambut istimewa tiga wayang golek untuk melakukan teaternya di hadapan Alan dan masyarakat kampung Bojongkokosan Kabupaten Sukabumi.
            TING... TING... TONG... TENG...
            He, barudak! Mangka ngarti
            Ulah rek kadalon-dalon
            Nungtut elmu jeung pangarti
            Masing rajin soson-soson
            Pibekeleun hirup tandang
            Modal bakti ka Nagara
            Lemah cai anu urang
            Perlu dijaga dibela
Pupuh Wirangrong
            "Aki, naon maksudna?"
            "Mepelingan nu ditujukeun ka barudak Indonesia sangkan bisa neruskeun cita-cita nu jadi pajoang jaman kolonial baheula.Ulah nyirnakeun sumanget diajar kulantaran kadalon-dalon," aki Abdurrahim ngajelaskeun ka kang Risman nu jadi bapa ti bocah suci, Alan.
            "Tuh, Alan teh kudu diajar sing bener. Dangukeun carios aki," ceuk kang Risman ka putrana.
            Sabot kang Risman neruskeun pepeling ti bapa ka putrana, bet! ki Abdurrahim, getih Indo-Palestin, leungit wujud teuing ka mana. Teu kungsi lila, kang Risman sadar yen bieu mah ingetan kang Risman basa aki mamatahan sarta bapana nu jadi pajoang Indonesia teh ngan ningalkeun papatah jeung hasil ulikan kabudayaan Indonesia. Anjeunna ngasah kamampuh dina widang kabudayaan Indonesia —hususna Sunda, sanajan nagara kalahiranna Palestina. Kang Risman ngan ukur bisa ngucurkeun cai panon di hareupeun putrana, Alan, nu teu nyaho naon-naon.
            Simbatan embun pagi melerai peluh demi peluh di pori-pori kulit Alan.Sekonyong-konyong tangisnya pecah dalam pengapian emosi.Hasrat untuk berjuang di negeri kelahiran kakek Abdurrahim mengalahkan ingatannya yang lemah.Tubuhnya meronta tatkala dua lengan teh Anis mendekap erat adiknya.Tak begitu lama ketika teh Anis melontarkan beberapa kata dari mulutnya, "Ingat, pesan dan cita-cita aki!"Alan membuka katup matanya dan menekadkan diri untuk membenarkan ucapan kakaknya itu, "Aku akan menjadi penerus kakek!"
            "Jangan katakan kamu akan ikut dengan mang Tio menyusul bapak!" kata teh Anis cemas.
            "Tepat, aku akan pergi ke Palestina untuk menolong saudara-saudaraku dari serangan Israel bersama rombongan mang Tio, juga dengan bapak yang sudah ada di sana," ujar Alan percaya diri.
            "Hentikan! Niatmu meneruskan cita-cita pejuang Indonesia dengan cara belajar sungguh-sungguh agar tidak menjadi warga negara yang bodoh, bukan melakukan hal yang sama seperti mereka. Apalagi itu negeri orang lain yang letaknya jauh dari Indonesia. Ingat! Kamu bocah 15 tahun," tegas teh Anis dengan kerutan wajahnya yang berliku-liku.
            "Justru itu, aku harus merasakan bagaimana melawan kolonialis. Ingat, Teh! Aki Abdurrahim telah membantu Indonesia untuk merdeka.Aki tidak berpikir untuk membawa nini ke Palestina.Tapi sama-sama berjuang mempertahankan Indonesia dari penjajah.Sekarang aku harus membantu tanah kelahiran aki.Niatku dibuktikan oleh semangat, bukan dihambat oleh umur," jelas Alan menyolang.
            Derai air mata semakin berlinang di tubuh teh Anis tatkala telinganya menangkap derap langkah yang menjauhi tempat ia berdiri. Wanita keturunan pahlawan Indonesia itu tak rikuh menyumbar dirinya yang berbadan dua untuk menghalangi niat adiknya yang melambung tinggi.Sesekali rasa sakit menghujam perut buncitnya.Namun, kedua lengan tak berhenti melenggang cepat —mengikuti langkah kaki Alan.Hingga manik matanya menangkap sesuatu yang hilang dari biasanya.Terpampang runyam dari jarak 7 meter.Saung Kuring Wungkul warisan aki Abdurrahim untuk kang Risman seolah-olah dengan mudahnya mempersilakan seseorang untuk mengetahui isinya.
.......sunyi dalam desiran bayu......
            Daun-daun palaning berkesiur menari gemersik.Angin sepoi tak luput menyelinap ke celah ventilasi Saung Kuwung.Teh Anis nekat dalam kesunyian.Tak nampak manusia! Dalam kamar Kuwung hanya tertata rapi pernak-pernik kesundaan.Teh Anis tertegun dalam remang-remang bohlam oranye kekuningan.Nalarnya sukar untuk meresap perihal yang baru saja masuk ke dalam memorinya.Awaknya kejang —nanar seketika.
***
            Nu sarakah beuki nista
            Adat kakurung ku iga
            Ngerja bodo ka sasama
            Nyokcrok nyeuseupan hasilna
            Nasib nu dijajah
            Seunggah susah payah
            Ringkus, bangkol, nandangan siksaan
            Nu ngajajah kejem
            Dipunjung dialem
            Weureu seubeuh hirup roroyalan
Pupuh Durma
            Dengan kuku panjang nan keras, Alan menciptakan suara merdu dari petikan dawai kecapi. Suara yang berbalut kesedihan membuat nalurinya semakin menjadi-jadi.Tekad yang telah dibulatkan mempengaruhi jiwanya yang amat keras.Sehingga tak cukup ruangan untuk sebuah kalender.
            Apa yang akan terjadi esok?
            Dunia seakan mempermainkan bocah yang dianggap tak signifikan itu.Semangatnya  menggebu-gebu di Saung besar Kuring Wungkul yang telah lepas dari penjara persembunyian.
            Sudah saatnya saung ini menampakkan diri yang sebenarnya.Lain saung keur kuring wungkul deui ayeuna mah. Tapi, sararea kudu nyaho sanajan can disatujuan ku bapa, pikir Alan.
            Daerah yang tampak sepi tak sedikit pun menepis gerak tubuh Alan.Sekelebat isi kamar Kuwung ludes digusur ke ruang tengah.Tak sengaja Alan memandang kakaknya terbaring lemah membisu di sudut ruang tengah saung Kuwung.
            "Apa yang teteh lakukan di sini?Jangan sembarangan masuk ke saung ini.Bapak menitipkan Saung Kuwung ini hanya kepadaku.Tidak boleh ada yang mengetahui isi saung selain aki, bapak, dan aku.Walaupun sebentar lagi akan kutunjukkan ke semua orang," ujar Alan terkejut dalam emosi.
            "Teteh minta maaf atas hal ini.Sebenarnya Teteh mengikutimu dari tadi hingga ke saung ini.Tapi saat di halaman saung, teteh kehilangan jejakmu, di dalam saung pun sepi.Kesempatan ini tidak disia-siakan hingga teteh terkejut saat melihat isi kamar Kuwung itu," jelas teh Anis pelan.
            "Aku lupa mengunci pintunya.Tadi aku mencari teteh di rumah.Tapi tidak ada, ternyata ada di sini.Padahal tak lama setelah dari rumah, aku main kecapi di kamar Kuwung, aku tak melihat teteh di saung ini.Sudahlah, yang penting sekarang aku mau minta maaf.Aku akan mengurung niatku," kata Alan mulai tenang.
            "Iya, baguslah. Teteh akan istirahat dulu di rumah. Bye...!"
            Alan tetap menyusuri nuraninya. Kendati bingung apa yang tetehnya lakukan. Selembar kertas mulai melayang menuju teras yang rata.Hatinya berbisik tentang niat yang mengakibatkan kesumat kecil tadi pagi.
            Ah, biar saja…
            Tinta hitam semakin deras mengalir —menodai kertas putih suci.Jemari ramping tak lelah bergoyang di atasnya.Lengkung demi lengkung tercipta sangat indah.Secercah asa yang melekat di jiwanya dituangkan ke dalam lembaran putih.Disusul dengan sebuah tulisan angka yang menyentuh nalarnya, 17-08-14.
            Cemas berputar-putar mengintari otak.Pikirannya tak kuat menembus niat itu. Beberapa kali diterkanya, ulang tahun teh Anis?, atau adakah sebuah perjanjian?, apa lagi?
            Besok tanggal 17 Agustus, aku akan pergi ke Palestina dengan rombongan mang Tio. Tapi..., pikir Alan sambil berjalan menuju palagan Bojongkokosan yang tak sangat jauh dari Saung Kuwung.
            Sorak-sorai manusia terdengar ricuh di lapang Bojongkokosan.Rengrengan orang-orang yang memikul besi untuk sebuah panggung terlihat gagah perkasa.Peluhnya menetes di setiap retakan jalan kecil hingga menggenang. Beberapa kali merah dan putih dilewati derap langkah Alan —seakan dihiraukannya. Juluran kabel hitam merangkak perlahan menuju standmic yang berdiri tegak di depan palagan. Tak sekilas Alan memandang patung yang ada di atas tembok palagan.Lamunan mencoba mencuri otaknya tatkala mata belo itu tak lepas menatap patung yang tak luput dari kesedihan.
            Bagaimana, ya?Aku harus sekuat para pejuang Indonesia ketika di Palestina nanti.Pasti senjata Israel sangat canggih, pikir Alan termenung di tengah lapang sembari matanya disilaukan patung yang megah.
            Lautan minyak tak pernah enggan untuk bersandar di tubuh manusia dalam desakan gejolak hawa.Cucuran keringat seolah-olah menari bebas di tubuh Alan.Sekonyong-konyong peluh demi peluh jatuh ke permukaan tanah tak lupa menarik tubuh Alan pula hingga terjatuh.Lalu matanya nampak ke sebelah kiri.Pria jangkung yang tak asing berdiri tegak di sebelah kiri Alan dengan tiga buah ransel terkait lemah di kedua pundaknya.
            "Mang Tio? Berangkat sekarang? Tapi aku belum siap,"tanya Alan gelisah.
            "Kita berangkat ke medan perjuangan untuk bela negara. Setelah 69 tahun Indonesia merdeka dari jajahan, kita harus berpartisipasi penuh dalam mewujudkan cita-cita pahlawan yang telah terkurung dalam tujuan negara Indonesia,"
            "Aku tidak mengerti.Apa maksudnya? Sebenarnya apa yang telah terjadi di sini?"Alan memutar-mutar helai demi helai rambutnya, penuh kebingungan.
            "Sama sekali tidak berkaitan dengan Palestina. Kita akan kekurangan kemampuan kalau kita pergi ke Palestina tanpa persiapan yang matang. Bapak kamu sudah keluar dari Palestina.Dia sedang berada di negara tetangga Palestina.Amang pun tak tahu negara mana.Informasi ini dari tetehmu.Tetehmu ditelepon bapakmu.Katanya Israel sudah semakin kejam.Sudahlah..., Amang lagi sibuk," Jelas mang Tio.
            Napas mulai berembus tergesa-gesa.Pucuk niat itu telah melambai jauh di hadapan Alan.Ajaran bapak dan akinya meleleh —terpecah belah.
            "Teh...!" seru Alan sambil berlari di atas tumpukan batu yang berwujud tangga.
            "Iya, Teteh tahu, tadi kamu berbohong tentang niatmu pergi ke Palestina. Tapi Teteh sudah tahu lebih dulu bahwa kamu dan rombongan mang Tio batal ke Palestina," ujar teh Anis, berdiri di depan pintu museum Bojongkokosan bersama suaminya.
            Kilau cahya emas terpancar kembali ke permukaan wajah Alan.Butiran tembaga bersatu padu dalam gamelan Sunda Saung Kuwung.Satu persatu barang peninggalan aki Abdurrahim dan barang titipan kang Risman diangkut ke dalam museum Bojongkokosan.Kini tak terlontar lagi dari jiwa Alan sebuah pertanyaan yang berluput emosi.
***
            Bayu pagi dengan cerdasnya meniup para mega di atas lapang Bojongkokosan.Hitungan sekon telah dilewati, perlahan hamparan langit terang benderang.Alan berjalan tanpa lenggang cepat dari saung Kuwung menuju lapang.Semerbak merah putih mengejutkan Alan. Acara peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia di lapang Bojongkokosan akan dimulai pukul 10.00 WIB. Namun, tak sedikit orang-orang pengisi acara yang telah berada di lapang.
            "Asep, Fajar, Doni, Ilham, Ujang ....?!" teriak Alan mendekati panggung.
            "Hai... Alan!" sahut serentak teman-teman sekolah Alan.
            "Kalian lagi apa di atas panggung kecil ini? Mengisi acara jadi apa?" tanya Alan tersenyum merekah.
            "Kita mengisi acara ini jadi pemain gamelan Sunda.Sebentar lagi kita akan latihan dengan gamelan milik bapakmu, bagus!" jawab Fajar.
            "Kenapa pakai gamelan bapakku?Siapa yang mengizinkan?" lanjut Alan berkerut kening.
            "Tetehmu, Lan! Kemarin teh Anis titip pesan pada Bapak, katanya dia tidak bisa hadir di acara ini karena harus beristirahat setelah kemarin ikut mempersiapkan acara dan mempersilakan untuk menggunakan alat-alat seni Saung Kuwung atas izin bapakmu," jelas pak Suparman, guru kesenian sekolah Alan.
            "Eh, Pak Suparman?Iya, aku paham. Sekarang bukan saung kuwung lagi karena semua orang sudah tahu rahasia sepelenya," lirih Alan
            "Sudah, sekarang kamu ikut main jadi pemukul gendang!Ayo latihan!" suruh pak Suparman.
            "Oke!"
......... Ting ting teng tong .....Dong  dong...
            Jarum jam sudah naik 3 angka. Tepat pada angka 10.Dengungan gong menggema di bumi Bojongkokosan.Kata demi kata yang terucap dari pembicara menambah semerbak hari ini. Tanpa disangka, MC mempersilakan Alan untuk berbicara di depan palagan, "Saya persilakan nak Alan si pemberani untuk mengungkapkan perasaannnya di hadapan kita semua!"
            "Dulu saya berniat pergi ke Palestina bersama mang Tio dan temannya untuk menolong saudara kami yang ada di Palestina sekaligus menjemput bapak pulang ke Indonesia.Tapi, aku menyesal telah melupakan hari ini, 17 Agustus. Seolah-olah aku lebih milih negara lain. SUNGGUH TIDAK! Aku sangat cinta Indonesia juga Palestina.Aku tidak memilih satu di antara dua itu, tapi aku milih sifat Indonesia yang mencintai perdamaian.Dulu bapaku menceritakan tentang kehidupan di bawah tahun 1945.Aku bisa menangkap kejadian itu.Tapi, nilai moralnya sulit kutangkap karena PENJAJAHAN BELUM BERAKHIR.KITA DIBODOHI OLEH BANGSA SEKALIGUS BUDAYA BARAT. INGAT! Semua yang berasal dari barat, bukanlah modern.Tapi, alat untuk membuat kita bodoh, malas, tidak mencapai tujuan negara Indonesia.Seperti game, busana, dan kuliner. Tapi, dengan adanya hari ini, ayo kita sadarkan diri kita. BENTENGI INDONESIA DENGAN PANCASILA!"
            Alan mencucurkan air matanya yang tirus.Matanya semakin sayu tatkala alat musik saung Kuwung serentak berbunyi.Gamelan, angklung, kecapi, suling, calung.
            Aki, nini, ibu, bahagialah di alam sana dan doakan Alan agar tidak bodoh dalam hidup ini. Teteh, jagalah buah hatinya kelak. Bapak, cepatlah pulang, saat ini aku sedang merasakan semerbak 69 tahun yang lalu di ujung usia saung Kuwung.
GLOSARIUM :
Bahasa Sunda~Bahasa Indonesia


Pupuh :LaguSunda
Nungtut : Sedikit demi sedikit
LemahCai :TanahAir
Barudak :Anak-anak
Elmu : Ilmu
Anu :Yang
Mangka : Awas, hati-hati, akibat
Jeung     : Dan
Hirup :Hidup
Ngarti    : Paham
Ulah :Jangan
Masing : Walaupun, Sing: Harus, semoga, sanggup—bersumpah
Rek : Akan, hendak           
Soson-soson : Sungguh-sungguh—bekerja
Kadalon-dalon : Lupa waktu karena ada yang disukai
Pibekeleun, bekel : Bekal
Urang :Kita
Naon : Apa
Maksudna : Maksudnya
Mepelingan : Nasihat
Ditujukeun : Ditujukan
Sangkan : Agar
Neruskeun : Meneruskan
Pajoang : Pejuang
Baheula : Dahulu
Nyirnakeun : Menyirnakan
Sumanget : Semangat
Diajar : Belajar
Kulantaran : Sebab
Ngajelaskeun : Menjelaskan
Ti : Dari
Kudu : Harus
Dangukeun : Dengarkan
Carios : Omongan
Ceuk : Kata
Sabot : Ketika
Getih : Darah
Leungit : Hilang
Teuing : TidakTahu
Teu : Tidak
Kungsi : Pernah
Lila : Lama
Yen : Bahwa
Bieu : Barusan
Ingetan : Ingatan
Basa : Ketika
Sarta : Serta
Mamatahan : Ngajar, nasihat
Ngan : Hanya
Ningalkeun : Meninggalkan
Anjeunna : Beliau
Kamampuh : Kemampuan
Dina : Dalam
Widang : Bidang
Hususna : Khususnya
Sanajan : Walaupun
Ngucurkeun : Mencucurkan
Cai : Air
Panon : Mata
Hareupeun : Depan
Nyaho : Tahu
Naon : Apa
Kuring : Saya
Wungkul : Saja
Sarakah : Serakah
Beuki : Suka
Nista : Aib
Ku : Oleh
Kakurung : Terkurung
Bodo : Bodoh
Sasama : Sesama
Hasilna : Hasilnya
Nandangan : Melanda
Kejem : Kejam
Seubeuh : Kenyang
Lain : Bukan
Keur : Untuk
Deui : Lagibo
Ayeuna : Sekarang
Sararea : Semuaorang
Kudu : Harus
Can : Belum
Disatujuan : Disetujui


Sekian cerpen postingan pertama ini. Tunggu cerpen berikutnya, ya!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar