SEMERBAK
-69 DI UJUNG USIA SAUNG KUWUNG
Populasi embun pagi serentak
menyimbat peluh tubuh Alan hingga membeku.Bocah 15 tahun itu tiada hentinya
mencak-mencak di hamparan makhluk hijau melambai.Tak lebih cepat dari kilatan
listrik udara, sukmanya terlontar ke sebuah lamunan yang tak lelap dari
keseduan.
Sunyi sesaat tak menjadi peluang
untuk bebas dari dunia yang suram.Ketika dalang berisak untuk wayang golek
kakek Abdurrahim, kepalan tangan tegang mulai tergambar kuat melalui tangan
wayang kakek Abdurrahim —terus-menerus di setiap celah sandiwara singkat dalam
pewayangan.Dua mata wayang itu kian menatap tajam wayang bocah suci. Saat itu
tak terlintas sedikit pun dalam benak Alan makna gerak demi gerak, kata demi
kata, begitu pula pupuh demi pupuh yang dilakukan kang Risman dalam
menjadi dalang sandiwara tiga wayang golek.
Sayup-sayup bunyi getaran dawai
kecapi selalu mengiringi dan menyambut istimewa tiga wayang golek untuk
melakukan teaternya di hadapan Alan dan masyarakat kampung Bojongkokosan
Kabupaten Sukabumi.
TING... TING... TONG... TENG...
He,
barudak! Mangka ngarti
Ulah
rek kadalon-dalon
Nungtut
elmu jeung pangarti
Masing
rajin soson-soson
Pibekeleun
hirup tandang
Modal
bakti ka Nagara
Lemah
cai anu urang
Perlu
dijaga dibela
Pupuh Wirangrong
"Aki,
naon maksudna?"
"Mepelingan
nu ditujukeun ka barudak Indonesia sangkan bisa neruskeun cita-cita nu jadi
pajoang jaman kolonial baheula.Ulah nyirnakeun sumanget diajar kulantaran
kadalon-dalon," aki Abdurrahim ngajelaskeun ka kang Risman nu jadi bapa ti
bocah suci, Alan.
"Tuh,
Alan teh kudu diajar sing bener. Dangukeun carios aki," ceuk kang Risman
ka putrana.
Sabot
kang Risman neruskeun pepeling ti bapa ka putrana, bet! ki Abdurrahim, getih
Indo-Palestin, leungit wujud teuing ka mana. Teu kungsi lila, kang Risman sadar
yen bieu mah ingetan kang Risman basa aki mamatahan sarta bapana nu jadi
pajoang Indonesia teh ngan ningalkeun papatah jeung hasil ulikan kabudayaan
Indonesia. Anjeunna ngasah kamampuh dina widang kabudayaan Indonesia —hususna
Sunda, sanajan nagara kalahiranna Palestina. Kang Risman ngan ukur bisa
ngucurkeun cai panon di hareupeun putrana, Alan, nu teu nyaho naon-naon.
Simbatan
embun pagi melerai peluh demi peluh di pori-pori kulit Alan.Sekonyong-konyong
tangisnya pecah dalam pengapian emosi.Hasrat untuk berjuang di negeri kelahiran
kakek Abdurrahim mengalahkan ingatannya yang lemah.Tubuhnya meronta tatkala dua
lengan teh Anis mendekap erat adiknya.Tak begitu lama ketika teh Anis
melontarkan beberapa kata dari mulutnya, "Ingat, pesan dan cita-cita
aki!"Alan membuka katup matanya dan menekadkan diri untuk membenarkan
ucapan kakaknya itu, "Aku akan menjadi penerus kakek!"
"Jangan katakan kamu akan ikut
dengan mang Tio menyusul bapak!" kata teh Anis cemas.
"Tepat, aku akan pergi ke
Palestina untuk menolong saudara-saudaraku dari serangan Israel bersama
rombongan mang Tio, juga dengan bapak yang sudah ada di sana," ujar Alan
percaya diri.
"Hentikan! Niatmu meneruskan
cita-cita pejuang Indonesia dengan cara belajar sungguh-sungguh agar tidak
menjadi warga negara yang bodoh,
bukan melakukan hal yang sama seperti mereka. Apalagi itu negeri orang lain
yang letaknya jauh dari Indonesia. Ingat! Kamu bocah 15 tahun," tegas teh
Anis dengan kerutan wajahnya yang berliku-liku.
"Justru itu, aku harus
merasakan bagaimana melawan kolonialis. Ingat, Teh! Aki Abdurrahim telah
membantu Indonesia untuk merdeka.Aki tidak berpikir untuk membawa nini ke
Palestina.Tapi sama-sama berjuang mempertahankan Indonesia dari
penjajah.Sekarang aku harus membantu tanah kelahiran aki.Niatku dibuktikan oleh
semangat, bukan dihambat oleh umur," jelas Alan menyolang.
Derai air mata semakin berlinang di
tubuh teh Anis tatkala telinganya menangkap derap langkah yang menjauhi tempat
ia berdiri. Wanita keturunan pahlawan Indonesia itu tak rikuh menyumbar dirinya
yang berbadan dua untuk menghalangi niat adiknya yang melambung tinggi.Sesekali
rasa sakit menghujam perut buncitnya.Namun, kedua lengan tak berhenti
melenggang cepat —mengikuti langkah kaki Alan.Hingga manik matanya menangkap sesuatu
yang hilang dari biasanya.Terpampang runyam dari jarak 7 meter.Saung Kuring
Wungkul warisan aki Abdurrahim untuk kang Risman seolah-olah dengan mudahnya
mempersilakan seseorang untuk mengetahui isinya.
.......sunyi dalam desiran
bayu......
Daun-daun palaning berkesiur menari gemersik.Angin sepoi tak luput menyelinap
ke celah ventilasi Saung Kuwung.Teh Anis nekat dalam kesunyian.Tak nampak manusia! Dalam kamar Kuwung
hanya tertata rapi pernak-pernik kesundaan.Teh
Anis tertegun dalam remang-remang bohlam oranye kekuningan.Nalarnya sukar untuk
meresap perihal yang baru saja masuk ke dalam memorinya.Awaknya kejang —nanar
seketika.
***
Nu
sarakah beuki nista
Adat
kakurung ku iga
Ngerja
bodo ka sasama
Nyokcrok
nyeuseupan hasilna
Nasib
nu dijajah
Seunggah
susah payah
Ringkus,
bangkol, nandangan siksaan
Nu
ngajajah kejem
Dipunjung
dialem
Weureu
seubeuh hirup roroyalan
Pupuh Durma
Dengan kuku panjang nan keras, Alan
menciptakan suara merdu dari petikan dawai kecapi. Suara yang berbalut
kesedihan membuat nalurinya semakin menjadi-jadi.Tekad yang telah dibulatkan
mempengaruhi jiwanya yang amat keras.Sehingga tak cukup ruangan untuk sebuah
kalender.
Apa
yang akan terjadi esok?
Dunia
seakan mempermainkan bocah yang dianggap tak signifikan itu.Semangatnya menggebu-gebu di Saung besar Kuring Wungkul
yang telah lepas dari penjara persembunyian.
Sudah
saatnya saung ini menampakkan diri yang sebenarnya.Lain saung keur kuring
wungkul deui ayeuna mah. Tapi, sararea kudu nyaho sanajan can disatujuan ku
bapa, pikir Alan.
Daerah yang tampak sepi tak sedikit
pun menepis gerak tubuh Alan.Sekelebat isi kamar Kuwung ludes digusur ke ruang
tengah.Tak sengaja Alan memandang kakaknya terbaring lemah membisu di sudut
ruang tengah saung Kuwung.
"Apa yang teteh lakukan di sini?Jangan
sembarangan masuk ke saung ini.Bapak menitipkan Saung Kuwung ini hanya
kepadaku.Tidak boleh ada yang mengetahui isi saung selain aki, bapak, dan
aku.Walaupun sebentar lagi akan kutunjukkan ke semua orang," ujar Alan
terkejut dalam emosi.
"Teteh minta maaf atas hal
ini.Sebenarnya Teteh mengikutimu dari tadi hingga ke saung ini.Tapi saat di
halaman saung, teteh kehilangan jejakmu, di dalam saung pun sepi.Kesempatan ini
tidak disia-siakan hingga teteh terkejut saat melihat isi kamar Kuwung itu,"
jelas teh Anis pelan.
"Aku lupa mengunci
pintunya.Tadi aku mencari teteh di rumah.Tapi tidak ada, ternyata ada di
sini.Padahal tak lama setelah dari rumah, aku main kecapi di kamar Kuwung, aku
tak melihat teteh di saung ini.Sudahlah, yang penting sekarang aku mau minta
maaf.Aku akan mengurung niatku," kata Alan mulai tenang.
"Iya, baguslah. Teteh akan
istirahat dulu di rumah. Bye...!"
Alan
tetap menyusuri nuraninya. Kendati bingung apa yang tetehnya lakukan. Selembar
kertas mulai melayang menuju teras yang rata.Hatinya berbisik tentang niat yang
mengakibatkan kesumat kecil tadi pagi.
Ah,
biar saja…
Tinta
hitam semakin deras mengalir —menodai kertas putih suci.Jemari ramping tak
lelah bergoyang di atasnya.Lengkung demi lengkung tercipta sangat indah.Secercah
asa yang melekat di jiwanya dituangkan ke dalam lembaran putih.Disusul dengan
sebuah tulisan angka yang menyentuh nalarnya, 17-08-14.
Cemas berputar-putar mengintari
otak.Pikirannya tak kuat menembus niat itu. Beberapa kali diterkanya, ulang tahun teh Anis?, atau adakah sebuah
perjanjian?, apa lagi?
Besok
tanggal 17 Agustus, aku akan pergi ke Palestina dengan rombongan mang Tio.
Tapi..., pikir Alan sambil berjalan menuju palagan
Bojongkokosan yang tak sangat jauh dari Saung Kuwung.
Sorak-sorai manusia terdengar ricuh
di lapang Bojongkokosan.Rengrengan orang-orang yang memikul besi untuk sebuah
panggung terlihat gagah perkasa.Peluhnya menetes di setiap retakan jalan kecil
hingga menggenang. Beberapa kali merah dan putih dilewati derap langkah Alan —seakan
dihiraukannya. Juluran kabel hitam merangkak perlahan menuju standmic yang berdiri tegak di depan
palagan. Tak sekilas Alan memandang patung yang ada di atas tembok
palagan.Lamunan mencoba mencuri otaknya tatkala mata belo itu tak lepas menatap
patung yang tak luput dari kesedihan.
Bagaimana,
ya?Aku harus sekuat para pejuang Indonesia ketika di Palestina nanti.Pasti
senjata Israel sangat canggih, pikir Alan termenung di tengah lapang
sembari matanya disilaukan patung yang megah.
Lautan minyak tak pernah enggan
untuk bersandar di tubuh manusia dalam desakan gejolak hawa.Cucuran keringat
seolah-olah menari bebas di tubuh Alan.Sekonyong-konyong peluh demi peluh jatuh
ke permukaan tanah tak lupa menarik tubuh Alan pula hingga terjatuh.Lalu
matanya nampak ke sebelah kiri.Pria jangkung yang tak asing berdiri tegak di
sebelah kiri Alan dengan tiga buah ransel terkait lemah di kedua pundaknya.
"Mang Tio? Berangkat sekarang?
Tapi aku belum siap,"tanya Alan gelisah.
"Kita berangkat ke medan
perjuangan untuk bela negara. Setelah 69 tahun Indonesia merdeka dari jajahan,
kita harus berpartisipasi penuh dalam mewujudkan cita-cita pahlawan yang telah
terkurung dalam tujuan negara
Indonesia,"
"Aku tidak mengerti.Apa
maksudnya? Sebenarnya apa yang telah terjadi di sini?"Alan memutar-mutar
helai demi helai rambutnya, penuh kebingungan.
"Sama sekali tidak berkaitan
dengan Palestina. Kita akan kekurangan kemampuan kalau kita pergi ke Palestina
tanpa persiapan yang matang. Bapak kamu sudah keluar dari Palestina.Dia sedang
berada di negara tetangga Palestina.Amang pun tak tahu negara mana.Informasi
ini dari tetehmu.Tetehmu ditelepon bapakmu.Katanya Israel sudah semakin
kejam.Sudahlah..., Amang lagi sibuk," Jelas mang Tio.
Napas mulai berembus
tergesa-gesa.Pucuk niat itu telah melambai jauh di hadapan Alan.Ajaran bapak
dan akinya meleleh —terpecah belah.
"Teh...!" seru Alan sambil
berlari di atas tumpukan batu yang berwujud tangga.
"Iya, Teteh tahu, tadi kamu
berbohong tentang niatmu pergi ke Palestina. Tapi Teteh sudah tahu lebih dulu
bahwa kamu dan rombongan mang Tio batal ke Palestina," ujar teh Anis,
berdiri di depan pintu museum Bojongkokosan bersama suaminya.
Kilau cahya emas terpancar kembali
ke permukaan wajah Alan.Butiran tembaga bersatu padu dalam gamelan Sunda Saung
Kuwung.Satu persatu barang peninggalan aki Abdurrahim dan barang titipan kang
Risman diangkut ke dalam museum Bojongkokosan.Kini tak terlontar lagi dari jiwa
Alan sebuah pertanyaan yang berluput emosi.
***
Bayu pagi dengan cerdasnya meniup
para mega di atas lapang Bojongkokosan.Hitungan sekon telah dilewati, perlahan
hamparan langit terang benderang.Alan berjalan tanpa lenggang cepat dari saung
Kuwung menuju lapang.Semerbak merah putih mengejutkan Alan. Acara peringatan
hari kemerdekaan Republik Indonesia di lapang Bojongkokosan akan dimulai pukul
10.00 WIB. Namun, tak sedikit orang-orang pengisi acara yang telah berada di
lapang.
"Asep, Fajar, Doni, Ilham,
Ujang ....?!" teriak Alan mendekati panggung.
"Hai... Alan!" sahut
serentak teman-teman sekolah Alan.
"Kalian lagi apa di atas
panggung kecil ini? Mengisi acara jadi apa?" tanya Alan tersenyum merekah.
"Kita mengisi acara ini jadi
pemain gamelan Sunda.Sebentar lagi kita akan latihan dengan gamelan milik
bapakmu, bagus!" jawab Fajar.
"Kenapa pakai gamelan
bapakku?Siapa yang mengizinkan?" lanjut Alan berkerut kening.
"Tetehmu, Lan! Kemarin teh Anis
titip pesan pada Bapak, katanya dia tidak bisa hadir di acara ini karena harus
beristirahat setelah kemarin ikut mempersiapkan acara dan mempersilakan untuk
menggunakan alat-alat seni Saung Kuwung atas izin bapakmu," jelas pak
Suparman, guru kesenian sekolah Alan.
"Eh, Pak Suparman?Iya, aku
paham. Sekarang bukan saung kuwung lagi karena semua orang sudah tahu rahasia
sepelenya," lirih Alan
"Sudah, sekarang kamu ikut main
jadi pemukul gendang!Ayo latihan!" suruh pak Suparman.
"Oke!"
.........
Ting ting teng tong .....Dong dong...
Jarum jam sudah naik 3 angka. Tepat
pada angka 10.Dengungan gong menggema di bumi Bojongkokosan.Kata demi kata yang
terucap dari pembicara menambah semerbak hari ini. Tanpa disangka, MC
mempersilakan Alan untuk berbicara di depan palagan, "Saya persilakan nak
Alan si pemberani untuk mengungkapkan perasaannnya di hadapan kita semua!"
"Dulu saya berniat pergi ke Palestina bersama mang Tio dan temannya
untuk menolong saudara kami yang ada di Palestina sekaligus menjemput bapak
pulang ke Indonesia.Tapi, aku menyesal telah melupakan hari ini, 17 Agustus.
Seolah-olah aku lebih milih negara lain. SUNGGUH TIDAK! Aku sangat cinta Indonesia
juga Palestina.Aku tidak memilih satu di antara dua itu, tapi aku milih sifat
Indonesia yang mencintai perdamaian.Dulu bapaku menceritakan tentang kehidupan
di bawah tahun 1945.Aku bisa menangkap kejadian itu.Tapi, nilai moralnya sulit
kutangkap karena PENJAJAHAN BELUM BERAKHIR.KITA DIBODOHI OLEH BANGSA SEKALIGUS
BUDAYA BARAT. INGAT! Semua yang berasal dari barat, bukanlah modern.Tapi, alat
untuk membuat kita bodoh, malas, tidak mencapai tujuan negara Indonesia.Seperti
game, busana, dan kuliner. Tapi, dengan adanya hari ini, ayo kita sadarkan diri
kita. BENTENGI INDONESIA DENGAN PANCASILA!"
Alan mencucurkan air matanya yang
tirus.Matanya semakin sayu tatkala alat musik saung Kuwung serentak
berbunyi.Gamelan, angklung, kecapi, suling, calung.
Aki, nini, ibu, bahagialah di alam
sana dan doakan Alan agar tidak bodoh dalam hidup ini. Teteh, jagalah buah
hatinya kelak. Bapak, cepatlah pulang, saat ini aku sedang merasakan semerbak
69 tahun yang lalu di ujung usia saung Kuwung.
GLOSARIUM
:
Bahasa
Sunda~Bahasa Indonesia
Pupuh :LaguSunda
Nungtut
: Sedikit demi sedikit
LemahCai :TanahAir
Barudak :Anak-anak
Elmu
: Ilmu
Anu :Yang
Mangka
: Awas, hati-hati, akibat
Jeung : Dan
Hirup :Hidup
Ngarti : Paham
Ulah :Jangan
Masing
: Walaupun, Sing: Harus, semoga,
sanggup—bersumpah
Rek
: Akan, hendak
Soson-soson
: Sungguh-sungguh—bekerja
Kadalon-dalon
: Lupa waktu karena ada yang disukai
Pibekeleun,
bekel : Bekal
Urang :Kita
Naon : Apa
Maksudna : Maksudnya
Mepelingan : Nasihat
Ditujukeun : Ditujukan
Sangkan : Agar
Neruskeun : Meneruskan
Pajoang : Pejuang
Baheula : Dahulu
Nyirnakeun : Menyirnakan
Sumanget : Semangat
Diajar : Belajar
Kulantaran : Sebab
Ngajelaskeun : Menjelaskan
Ti : Dari
Kudu : Harus
Dangukeun : Dengarkan
Carios : Omongan
Ceuk : Kata
Sabot : Ketika
Getih : Darah
Leungit : Hilang
Teuing : TidakTahu
Teu : Tidak
Kungsi : Pernah
Lila : Lama
Yen : Bahwa
Bieu : Barusan
Ingetan : Ingatan
Basa : Ketika
Sarta : Serta
Mamatahan : Ngajar, nasihat
Ngan : Hanya
Ningalkeun : Meninggalkan
Anjeunna : Beliau
Kamampuh : Kemampuan
Dina : Dalam
Widang : Bidang
Hususna : Khususnya
Sanajan : Walaupun
Ngucurkeun : Mencucurkan
Cai : Air
Panon : Mata
Hareupeun : Depan
Nyaho : Tahu
Naon : Apa
Kuring : Saya
Wungkul : Saja
Sarakah : Serakah
Beuki : Suka
Nista : Aib
Ku : Oleh
Kakurung : Terkurung
Bodo : Bodoh
Sasama : Sesama
Hasilna : Hasilnya
Nandangan : Melanda
Kejem : Kejam
Seubeuh : Kenyang
Lain : Bukan
Keur : Untuk
Deui : Lagibo
Ayeuna : Sekarang
Sararea : Semuaorang
Kudu : Harus
Can : Belum
Disatujuan : Disetujui
Sekian cerpen postingan pertama ini. Tunggu cerpen berikutnya, ya!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar